capekngetik:
“OPIA
aku jatuh pada matamu.
seperti dunia tiba-tiba terbalik
dan aku jatuh ke langit.
tanpa dasar, tanpa sadar.
aku melihat matamu dan aku terpaku.
seakan ada ribuan anak panah melesat
dari sana, menginvasi;
melewati jendela—menembus...

capekngetik:

OPIA

aku jatuh pada matamu.
seperti dunia tiba-tiba terbalik
dan aku jatuh ke langit.
tanpa dasar, tanpa sadar.

aku melihat matamu dan aku terpaku.
seakan ada ribuan anak panah melesat
dari sana, menginvasi;
melewati jendela—menembus hati.

aku melihat matamu dan aku tenggelam.
seolah ada laut yang dalam di sana,
yang menarik dan menggulung
seluruh aku tanpa sempat bersiap.

aku melihat matamu
dan menemukan selamanya di sana.
menatapmu, aku menemukan
segala cukup. aku menemukan pulang.

dan oleh karena itu, aku cukup mengerti
bahwa mataku ingin menemui
matamu sekali lagi—atau selamanya.
bolehkah?

Jakarta, 140721

chaacholate:

Pada bagaimana cerita ini dimulai.

“Kalau nanti luang, boleh nemenin isi ulang galon ngga?”

“Pingin makan sate, disini dimana ya.”

“Eh, gas aku abis!”

“Aku mau beli-beli sekalian.”

“Sekalian nganter laundry boleh?”

Dan pada kesemuanya, kamu bersedia.

Perantauan adalah semesta yang asing, jauh dari penjagaan akrab yang sudah biasa aku sesapi nyamannya. Adalah aku saja yang belum terbiasa dipaksa mandiri oleh keadaan, awam sekali sebagai manusia dewasa.

Sebabnya ada banyak kebersyukuran pada kebersediaan kamu menemani. Pada banyak bantuan di minggu-minggu yang berlanjut bulan dan seterusnya, jujur saja enggan hadir diantaranya. Merusuh rasanya, kerap kali minta ditemani seperti remaja.

“Aku pingin nasi goreng, tapi disini malem baru ada katanya.”

“Kalau nanti malam jadi pergi, kabarin ya biar ditemenin.”

Enggan ditemani, yang akhirnya harus kamu jemput juga. Dengan kebingungan di persimpangan, dingin dekap seluruh badan, tangan dan kaki yang bergerak serirama jantung. Tersasar malam hari di kota kecil adalah sebab tangisku yang pertama.

Setelahnya bahkan wujudku tenggelam dalam sepetak kamar sewa bersama matahari terbenam. Habis sudah keberanianku coba-coba jelajahi kota ini seorang diri. Lalu enggan kulipat rapi dalam lemari. Aku menaruh harap, waktu akan panjang pada kebersediaanmu.

Dan Tuhan mengizinkan.

Ketahuilah, pada langkah mundur teratur dari kesalahpahaman, hadir penerimaan yang nyatanya meringankan enggan yang sering menggerai tanpa ingin.

Pada semuanya, hadirmu utuh ; katamu.

Harap kecil kemudian membaur dengan intensi yang terus ada, biasa saja adalah penerimaan ternyaman dengan teman sebagai awal yang menyenangkan.

Makasih, chingu!

Chingu ; yang katamu mirip nama nyamuk.

Pada bagaimana cerita ini dimulai.

“Kalau nanti luang, boleh nemenin isi ulang galon ngga?”

“Pingin makan sate, disini dimana ya.”

“Eh, gas aku abis!”

“Aku mau beli-beli sekalian.”

“Sekalian nganter laundry boleh?”

Dan pada kesemuanya, kamu bersedia.

Perantauan adalah semesta yang asing, jauh dari penjagaan akrab yang sudah biasa aku sesapi nyamannya. Adalah aku saja yang belum terbiasa dipaksa mandiri oleh keadaan, awam sekali sebagai manusia dewasa.

Sebabnya ada banyak kebersyukuran pada kebersediaan kamu menemani. Pada banyak bantuan di minggu-minggu yang berlanjut bulan dan seterusnya, jujur saja enggan hadir diantaranya. Merusuh rasanya, kerap kali minta ditemani seperti remaja.

“Aku pingin nasi goreng, tapi disini malem baru ada katanya.”

“Kalau nanti malam jadi pergi, kabarin ya biar ditemenin.”

Enggan ditemani, yang akhirnya harus kamu jemput juga. Dengan kebingungan di persimpangan, dingin dekap seluruh badan, tangan dan kaki yang bergerak serirama jantung. Tersasar malam hari di kota kecil adalah sebab tangisku yang pertama.

Setelahnya bahkan wujudku tenggelam dalam sepetak kamar sewa bersama matahari terbenam. Habis sudah keberanianku coba-coba jelajahi kota ini seorang diri. Lalu enggan kulipat rapi dalam lemari. Aku menaruh harap, waktu akan panjang pada kebersediaanmu.

Dan Tuhan mengizinkan.

Pada bagaimana cerita ini dimulai.

“ … ketemu juga ya kita!”

Sembilan tahun setelah percakapan-percakapan kecil tentang komik, kesukaan, tulisan-tulisan bertema, cerita paskibraka, trik jitu lulus SBMPTN, pujian dan apresiasi, intensi kita menetap disana. Ada kesan yang terlupa setelah kesan-kesan yang lebih memikat hadir.

Pada banyak pertemuan yang nyaris saja, hampir berpapasan di rental komik, ajakan makan siang yang akhirnya ku tolak, dan keengganan menghampiri di gerbang sekolah, intensi kita berakhir disana. Ada kesan lain yang tercipta diantara persona yang hadir.

Setelah sembilan tahun, semesta beri jalan pada pertemuan yang pernah ku tolak dengan banyak alasan, dengan banyak alasan untuk bertemu kamu. Pada banyak ketidakmampuan, kamu mengulurkan tangan. Pada banyak ketakutan, ada kehati-hatian dan pengertian. Dan pada jeda di setiap langkah, ada keberanian untuk mendekat dan keinginan untuk lebih lekat.

Pada banyak cerita, semesta perasaan baru akan murni tanpa kesan-kesan sebelumnya. Tapi pada cerita yang sama banyaknya, kesan-kesan berupa warna pun dapat hadir membentuk semesta perasaan yang baru. Lucunya, aku pernah berdoa demikian.

Dan mungkin saja, kamu orangnya.

Pagi-pagi udah riweuh aja. Perkara semut-semut berkoloni ngebentuk arakan dan ngeblokir pintu masuk, terus rame-rame ngeremunin makanan yang ada di rak paling bawah. Itu stok jajananku, please jangan dijarah.

Akhirnya beberes rak makanan dan ternyata emang sisa snack yang belum abis itu udah dipenuhi sama pasukan semut, jadi yaudah ya mungkin emang saatnya mengikhlaskan.

Abis ngikhlasin sesuatu, saatnya ngeset boundaries yang baru. Yak, dengan kapur ajaib hasil minjem dari temen kosan depan kamar. Coret-coret putih itu akhirnya dimana-mana, di sela keramik lantai, bawah kaki meja dan rak, dan ngebricade pintu masuk. Udah kaya jimat segel aja.

Udah ya, udah. Kalian udah masuk sesukanya, ngambil sesuatu dan aku udah ikhlasin juga. Jadi tolong itu batasan jangan dilangkahin lagi.

Enam bulan yang lalu, bukan kali pertama tapi mulanya langkah berpijak untuk mulai yang mungkin menetap.

Enam bulan yang lalu, bukan kali pertama ajakan temu tapi mulanya netra merekam binar sekaligus senyum yang menyaman jadi candu.

Enam bulan yang lalu, bukan kali pertama riang ramah sapa akrab telinga tapi mulanya suara menggaung jadi rindu.

Enam bulan yang lalu, temu-temu singkat atas dasar keperluan berlanjut duduk akhir pekan dengan cerita yang ingin dibagi.

Enam bulan yang lalu, bibir kita mulai kecup manis kota ini ; makanan yang dicoba bersama, obrolan ringan dengan tawa yang sesekali hadir, dan senja sebagai pemanisnya.

Enam bulan lalu, dengan seluas restu dan prasangka baik atas kota ini ; Tuhan kirimkan orang-orang baik untuk menemani.

Pun,

Enam bulan yang lalu, kepada dua hati yang memilih sendiri, pertemuan di kota ini jadi awal saling mengisi.

KELAK, JIKA AKU ADALAH WANITAMU

imthaam:

Pertama, ku ucapkan turut berduka cita karena kamu mencintai wanita yang penuh dengan kekurangan dalam dirinya. Kedua, ku ucapkan selamat karena kamu akan terus dicintainya dengan hebat.


Kelak, jika akhirnya kamu yang kupilih menemaniku, ketahuilah bahwa aku telah menerima seutuhnya dirimu.


Aku tak bisa menjanjikan kamu akan bahagia tapi kupastikan aku akan terus berusaha membuatmu bahagia. Kamu akan terus dan terus menemukan setiap kekurangan yang ada. Mungkin sesekali membuatmu jengah, tapi membiarkanmu pergi ke lain hati aku enggan sama sekali.

Jika kamu mendapatiku tersenyum saat kamu memujiku, ketahuilah saat itu aku sedang takut kamu akan kecewa. Jangan taruh ekspetasimu terlalu tinggi tentangku, karena aku tetap saja hanya manusia biasa.


Bahagiakan aku dengan hal-hal sederhana. Sesederhana mungkin aku membuatmu bahagia; dengan perhatian, dengan pijatan di kepala, dengan memuji lesung pipimu, dengan masakan-masakan uji coba, dengan menggandengmu kemana-mana.


Jangan berharap akan gadis anggun nan jelita, yang ada mungkin aku akan menganggapmu seperti kawan lama. Tertawa keras, berkata kasar sesekali, atau bahkan memukulmu saat kesal.


Kamu akan mendapati aku yang meledak-ledak. Setiap ledakannya akan berbeda tergantung suasana. Jangan kaget jika kamu mendapati aku tiba-tiba menangis tanpa sebab, bahkan hanya karena aku tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasa.


Bisa jadi aku manja, merengek padamu seolah anak kecil pada ayahnya. Ketahuilah bahwa rengekan itu hanya kamu yang menerimanya. Bisa jadi aku dewasa, sehingga dapat memanjakanmu yang sewaktu-waktu berubah menjadi anak tk.


Sering kali aku akan banyak maunya. Meminta ini dan itu tanpa malu. Jangan kabulkan semuanya. Terkadang keinginanku hanyalah rasa penasaran yang berujung sia-sia. Kamu harus lebih pintar memilah yang terbaik untukku.


Bersamaku kamu tidak akan pernah takut untuk ditinggalkan, kecuali jika Tuhan yang menginginkan. Dan bersamaku, kamu tidak akan pernah berjuang sendirian.

(via nilanov)

Aku pun sepaham denganmu, setiap kita berhak peluk nyamannya.

Tapi nyamanmu hanya dapat kunikmati, dengan hati-hati sekali.

Sebab nyaman tanpa aman ; tetap tidak berdaya untuk ku peluk seutuhnya

Disini, semua yang terlihat biasa saja ; akan jujur apa adanya.

Berani perlihatkan warnanya, rupa rasa yang sebenarnya

Tentang kamu, yang pernah acap kali teringat.

Aku lebih lega ;

Sebab rindu yang dulu pekat, kini tidak lagi lekat.

Sebab rasa yang dulunya kuat, kini tidak lagi memikat.


Senang telah mampu berbahagia, tanpa menginginkan kamu lagi di dalamnya.

image

Indy Theme by Safe As Milk