Pada bagaimana cerita ini dimulai.
“Kalau nanti luang, boleh nemenin isi ulang galon ngga?”
“Pingin makan sate, disini dimana ya.”
“Eh, gas aku abis!”
“Aku mau beli-beli sekalian.”
“Sekalian nganter laundry boleh?”
Dan pada kesemuanya, kamu bersedia.
Perantauan adalah semesta yang asing, jauh dari penjagaan akrab yang sudah biasa aku sesapi nyamannya. Adalah aku saja yang belum terbiasa dipaksa mandiri oleh keadaan, awam sekali sebagai manusia dewasa.
Sebabnya ada banyak kebersyukuran pada kebersediaan kamu menemani. Pada banyak bantuan di minggu-minggu yang berlanjut bulan dan seterusnya, jujur saja enggan hadir diantaranya. Merusuh rasanya, kerap kali minta ditemani seperti remaja.
“Aku pingin nasi goreng, tapi disini malem baru ada katanya.”
“Kalau nanti malam jadi pergi, kabarin ya biar ditemenin.”
Enggan ditemani, yang akhirnya harus kamu jemput juga. Dengan kebingungan di persimpangan, dingin dekap seluruh badan, tangan dan kaki yang bergerak serirama jantung. Tersasar malam hari di kota kecil adalah sebab tangisku yang pertama.
Setelahnya bahkan wujudku tenggelam dalam sepetak kamar sewa bersama matahari terbenam. Habis sudah keberanianku coba-coba jelajahi kota ini seorang diri. Lalu enggan kulipat rapi dalam lemari. Aku menaruh harap, waktu akan panjang pada kebersediaanmu.
Dan Tuhan mengizinkan.